karena aku hidup maka aku berjuang, karena ku berfikir maka aku berontak, karena aku melihat maka aku harus bicara….karena bicara tak mampu abadi maka kutuliskan, karena telah kutulis..maka jawablah..

“Aku ingin jadi Kartini”
Kuucapkan kalimat itu lantang ketika ku SD. Ketika itu ibu guru menyuruh kami menyebutkan tokoh pahlawan yang diidolakan. Saat itu sesungguhnya aku tak kenal siapa Kartini. Lantangku saat itu hanya untuk mengalahkan lantang nya kawan-kawanku menyebut tokoh pahlawannya.
Bagiku Kartini saat itu, hanya wanita anggun, berwajah bulat, berkebaya putih di pajang di deretan pahlawan di dinding kelas. Kupilih dia karena kami punya kesamaan, sama sama perempuan.

Ya..ya..memang ada gambar perempuan lain, ada Cut Nyak Dhien, Martha Cristhina Tiahahu terpajang juga di dinding kelas. Karakter keras tampak di wajah mereka. Mungkin karena itu, Aku tidak begitu suka mereka saat itu. Bagiku perempuan ideal itu ya..Kartini. Wajahnya lembut, seperti Ibuku.

Ya..ya..seingatku ada juga Pahlawan pemilik wajah keibuan. Namanya Dewi Sartika. Tapi ah..aku tak juga begitu suka. Masih lebih cantik Kartini.
Salahkah?. Ah.. saat itu aku tak perduli.

Lalu, perlahan aku kenal dia. Kartini itu, pejuang hak perempuan. Dengan caranya yang tak langsung aku bisa sekolah dengan bebasnya. Kartini anak Bupati Jepara, Suka menulis surat, Kumpulan suratnya kemudian menjadi buku, judulnya, habis gelap terbitlah terang. Tak pernah aku baca bukunya. Aku hanya simpulkan, buku itu lah yang mengabadikan namanya.

******

“Kenapa Kartini?” tanya seorang sahabat.
“Lha..apa yang salah dengan Kartini?” Sahutku bingung malah balik bertanya. Bukankah umumnya anak perempuan di Indonesia mengidolakan Kartini?. Bagiku malah pertanyaan temanku ini yang aneh.

“Sebenarnya yang lebih layak populer itu adalah Dewi Sartika. Dia mendirikan sekolah perempuan pertama. Bukan Kartini. Kartini hanya meniru saja, melanjutkan perjuangan Dewi Sartika saja.
Sedangkan Kartini..Perjuangannya pun tak segarang Cut Nyak Dhien yang membuat Belanda kehabisan akal menghabisi Aceh. Apa sih.. yang diperbuat Kartini bagi bangsanya?. Bukankah dia hanya menulis?, menjadi Istri yang di madu, lalu meninggal di usia muda. Aku ragu dengan kelayakannya sebagai Pahlawan Nasional”.

Aku hanya terdiam. Di benakku mulai setuju dengan temanku. Ada benarnya juga dia. Ya..apa hebatnya Kartini??. Tak terbersit satu alasan kuat dan ampuh di otakku untuk aku membalas pemikiran sahabatku itu. Dan karena aku tak ingin terlihat bodoh…kujawab saja sekenanya.

“Tapi…apa pentingnya membandingkan kepopuleran pahlawan?. Bagaimanapun mereka telah berjasa bagi negeri. Untuk apalah dirirbut-ributkan siapa yang lebih populer, dan siapa yang benar benar pahlawan sejati. Yang penting aku suka aja”. Jawabku seolah tak perduli dengan pemikirannya.
Tapi sahabat itu tak menyerah juga. katanya..

” Bagaimana bisa kamu meneladaninya, kalau kamu sendiri tidak tau apa yang dia lakukan bagi negeri ini, Harusnya yang kamu jadikan Idola adalah yang terbaik. Yang benar-benar layak mendapat gelar pahlawan nasional, bukan karena banyak orang-orang menyebutnya sebagai Pahwalan Nasional”.

Saat itu aku masih SMP, dan tak ambil perduli dengan ucapan temanku yang aneh itu. Aneh karena dia sendiri perempuan yang kukenalyang tak suka Kartini. Semua suka Kartini. Sampai ada lagunya, bukan?

ibu kita Kartini
putri sejati
putri Indonesia
Harum namanya
….

******

Lalu ketika aku SMA, tak sengaja, tepat di hari Kartini kubaca artikel seputar Tokoh idolaku itu. Isinya menggugat kebenaran surat-surat Kartini. Alasannya, tak mungkinlah anak usia 16 tahun sudah bisa menulis dengan analisa sedalam itu. Mampu mengkritisi Agama, kondisi perempuan, pendidikan dan lain-lain.Saat itu aku berfikir sejenak..benarkah tak bisa?. Kubandingkan Kartini dengan diriku saat itu di usia yang sama. Yah..memang aku tak punya selembar tulisanpun kecuali tugas mengarang di sekolah. Mungkin benarlah pemikiran penulis artikel itu, karena dia sendiripun tak mampu menandingi tulisan Kartini meski usianya sudah melewati usia Kartini saat menulis surat-suratnya itu.

Namun saat itu,aku juga tak begitu perduli dengan pemikiran artikel tersebut. Aku lebih berasa Malu. Malu pada diri sendiri. Aku malu pada Kartini.
Begitu banyak fasilitas yang kuterima, begitu bebas aku mendapatkan apapun yang kuinginkan. Tapi aku tak secemerlang Kartini dengan segala keterbatasan perempuan di zamannya.
Ya.. aku tak perduli dengan pemikiran artikel koran itu.
Ah..tak perduli akan benar tidaknya keaslian tulisan Kartini. Aku ingin bisa seperti Kartini yang menulis kondisi bangsanya.
Sejak itu akupun mulai menulis. Semakin sering aku menulis, semakin butuh aku membaca. Pahamlah aku, kenapa Kartini lebih populer dari pahlawan perempuan lainnya.
Karena…Kartini menulis sejarahnya sendiri.
Kartini tak tunduk pada History, Tapi Kartini menulis Herstory.

*****
Dan pagi ini. Di depan cermin usai kusemat hiasan jilbabku.
Aku bergumam sendiri, meneguhkan hati.
Aku mungkin tak secemerlang Kartini.
Mungkin tinta pena ku tumpah hingga ke eropa sana.
Mungkin kelak Aku tak akan mengabadi seperti Abadinya Kartini di benak perempuan Indonesia.
Tapi wahai Kartini, Pahlawanku, Aku lebih berani dari dirimu.

***
Kukecup kening Ayah Ibukuku, kuciumi kedua tangannya, dan bersimpuh di Kakinya.
” Maafkan Kartini, karena telah bercerai dengan Mas Ario. Cukup sudah Kartini disakiti. Tak kan kubiarkan anak-anakku belajar menyakiti. Jangan Ayah Ibu ragukan masa depan anak-anakku. Kartini bisa menghidupi mereka. Relakan saja Kartini dengan jalan hidup yang Kartini pilih, karena aku..Kartini”.

Wajah renta mereka perih melepasku. Perih itu semakin menusuk luka hatiku yang menganga. Sungguh Aku mencintai mereka berdua. Tapi aku harus bangkit. Ku gandeng kedua anakku. Sekolah Perempuan menanti untuk ku bangun.

***

Medan, 21 April 2009

April 23rd, 2009 at 6:22 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

VISI:

“Membangun Negeri Bagai Ibu yang Melindungi dan Mendidik Anaknya Sejak dalam Kandungan.”

Sabar, Ikhlas, dan Penuh Kasih Sayang

MISI :

“Reformasi Pendidikan”

Dengan mengembangkan prinsip :

  • Pendidikan.Karakter

Pendidikan yang tidak melahirkan orang-orang yang selalu merasa kurang mendapatkan apapun, tapi pendidikan yang melahirkan orang-orang yang selalu memberi, berbagi, berbuat untuk sesama

  • Pendidikan Kemandirian

Pendidikan yang tidak melahirkan peminta-minta pensiunan dari Negara tapi menghidupi Negara dengan karya-karyanya

  • Pendidikan Kebangsaan

Pendidikan yang membangun kebanggaan berbangsa Indonesia. Bangsa yang bergotong royong, yang beraneka ragam budaya, agama dan mampu hidup rukun, yang ramahdan bekerja keras. Bangsa yang membenci segala bentuk penjajahan.

  • Pendidikan Integral dalam semua aspek hidup berbangsa.

Pendidikan yang diserap dan di terapkan di semua aspek kehidupan. Aktifitas di setiap unsur negera adalah untuk memberikan pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Baik itu di Media Massa, seperti Radio, Televisi, dunia maya dan lain-lain.

Baik itu di pelayanan Pemeritahan, bahkan di setiap tingkah laku warga Indonesia.Semua bervisi pendidikan untuk Indonesia yang lebih baik dan terbaik.

Setiap diri adalah teladan bagi yang lain.

February 16th, 2009 at 10:27 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Pagi buta, kami mengetuk rumah Pak Bupati. Matahari baru saja mengintip di sela embun pagi. Kabut pun belum sepenuhnya undur diri. Jangan kira sepagi itu Pak Bupati masih merapatkan selimutnya. Sarungnya memang belum lepas melilit tubuh gembulnya. Mukanya tak jelas sudah pun mandi atau belum. Bajunya hanya kemeja seadanya dan sandal jepit yang kadang diseret berjalan. Tak perduli dengan penampilan bangun tidur, di hadapinya para pengunjung yang mengetuk rumahnya dengan ramah. Dan Kami sudah di dahului oleh 5 orang yang juga ingin bertemu.

Pak Bupati memang baik lagi rendah hati. Didengarnya kami mahasiswa, dimintanya sang ajudan memotong antrian. Kami pun masuk dengan badan di tegap-tegapkan. Tak lah kami dapatkan kemudahan ini jika tak membawa bendera organisasi mahasiswa. Dan…Pak Bupati yang mengaku belum sikat gigi itu pun mulai berceloteh. Selain Bupati paling buruk rupa se-Indonesia, kukira dia juga paling banyak bicara. Meski kami hendak datang berbicara, dialah yang banyak berbicara. Curhat?. Entah lah…tapi dia berkata yang tak ku lupa sampai sekarang.

“ Bukan tak banyak yang Bapak membantu orang-orang sekitar Bapak. Bolehlah dikatakan KKN.Beberapa PNS di sekitarku adalah orang-orang yang kuharap mau melakukan perubahan. Dikirim studi banding sana sini, agar bisa di contohkan di daerah ini…”

“tapi…” Pak Bupati terdiam sebentar, wajahnya tampak sedih.

“tapi..tak juga ada perubahan. Cobalah kau jawab mahasiswa, apa yang harus ku lakukan?.

Dan pertanyaannya bukan lah untuk kami jawab karena dia terus mengoceh. Sekali-kali menertawakan anak buahnya. Mengisahkan perhatiannya kepada anak buahnya. Sampai ulang tahun pegawainya pun dia sempat memberikan kartu ucapan selamat. Salut benar kami mendengarnya. Dan tak hendak memotong pembicaraannya. Karena di percakapan ini San Bupati lah yang memegang kendali. Kami harus menunggu sampai maksud hati kami di persilahkannya untuk di ungkap.

“ Ada lagi yang aneh bin ajaib”. Pak Bupati memulai kisah baru dengan tema yang senada. kekecewaan.

“Ada tamatan S2 datang berkunjung meminta tolong. Yang di pintanya hanya satu, agar aku bisa meloloskan dia test PNS”.

“ Cobalah kau lihat Mahasiswa,bukankan aneh jika tamatan S2, jauh-jauh sekolah ke luar negeri, pulang-pulang minta tolong pada ku yang cuma tamatan sarjana?”. Alamak mata bulat Pak Bupati bulat mendelik bikin ku geli.

“Bukankah dunia sudah aneh?”. Lanjutnya lagi. Kami tetap jadi pendengar budimannya meski hati teraduk-aduk, antara geli dan juga miris.

“Bukankah harusnya aku yang minta bantuan dari yang berpendidikan lebih tinggi?. Kenapa pula dia masih berharap PNS?.

Sekali lagi memang bukan pertanyaan itu bukan untuk kami jawab, tapi cermin kepada kami. Dunia pendidikan bukanlah jaminan kemandirian.

“Nah, ada lagi yayasan meminta pengadaan bantuan bangku sekolah. Ku baca daftar pengurus yayasannya adalah orang-orang terkaya di daerah ini….

“Coba kau jawab lah mahasiswa…. ”

“Untuk pengadaan kursi sekian juta perak saja mereka tak sanggup???!”. Percaya kah kalian?”.

Suaranya meninggi, dan mata mendelik, dan kami pun geleng-geleng tanda tak percaya.

“Kenapa ya… mereka masih rakus untuk meminta?”.

Aku dan temenku tersenyum miris.

“hmm…Baiklah”. Suara Pak Bupati terdengar menyejuk.

“sekarang apa yang ingin kalian sampaikan.”

Ramah dia meminta kami bicara.

“Nah..ini baru kesempatan kami”. Yakinku dalam hati.

Kusorong proposal pelatihan sekolah kemandirian, mantap tanpa ragu.

“Kami bukan pengemis Pak, kami mahasiswa. Saat ini Kami cuma punya tenaga dan pemikiran. Bapak Bantu kami dana. Bukan dana untuk hura-hura, atau studi banding tanpa hasil. Ini Dana untuk pendidikan anak negeri. Pendidikan yang tidak melahirkan peminta-minta pensiunan dari Negara tapi menghidupi Negara dengan karyanya. Pendidikan yang tidak melahirkan orang-orang yang selalu merasa kurang mendapatkan apapun, tapi pendidikan yang melahirkan orang-orang yang selalu memberi, berbagi, berbuat untuk sesama. Kami tidak mengemis Pak, kami meminta secuil hak pendidikan yang di borong dan di jual mahal oleh dinas pendidikan”.

Pak Bupati bengong, tersenyum. Diliriknya proposal, tanpa niat untuk membaca isinya.

“ Tak mengerti aku apa yang kau bilang mahasiswa…”. Dia diam sebentar, mungkin berfikir. Matanya melihat kami berdua bingung dan menyelidik.

“Tapi tentulah akan ku Bantu. Seperti aku membantu si PNS, si tamatan S2, dan yayasan milik orang terkaya yang tak sanggup membeli paket kursi baru itu. Kau ingat-ingatlah bantuanku ini, karena kelak aku pun akan butuh bantuanmu”.

Kami tersenyum, bersalaman sembari mengucap terimakasih.

February 6th, 2009 at 12:39 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Heboh tentang dugaan Adam Malik angota CIA, membuatku penasaran dengan biografi tokoh nasional ini. Kelahiran Pematang Siantar. Pernah sekolah di Langkat. Dan ada hubungan dengan Malaysia???.
baca..baca..baca..tersandung lah aku pada usia berapa tokoh ini mulai terjun di masyarakat. Catet…Usia 17 sudah jadi ketua Partindo di kampungnya, Pematang Siantar. Sekali lagi 17 Tahun!.
Beliau juga tak menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Hanya tamatan setingkat SD (HIS) saja dan OTODIDAK. Tapi kemampuan diplomasinya membuat karirnya meroket sampai di puncak kekuasaan Indonesia. Bahkan bisa untuk gigi di dunia internasional sebagai Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York.

Nah..kenapa pula di saat ini, kita yang telah menempuh SD, SMP SMA, Es Satu sampai es Teler tapi tak banyak yang sekaliber diplomasi Adam Malik?.

Hmm.. menurutku jawabannya, adalah pengalaman berorganisasi. Pengalaman berpolitik.

Adam malik pada usia 17 tahun, yang mana menurut kesepakatan Internasional dalam Konvensi Hak Anak, masih di sebut sebagai ANAK, sudah menjadi Ketua PARTINDO. Posisi ketua menunjukkan bahwa ada posisi yag dilaluinya sebelum menjabat ketua. Posisi ketua juga menunjukkan kematangan berorganisasi.

Maka bandingkanlah Proses pendidikan Adam Malik dengan pendidikan anak Indonesia di masa sekarang. Dimanakah Anak Indonesia saat ini pada saat mereka berusia 17 tahun?.

Lalu masyarakat pun tersihir dengan titel master -master yang dibawa oleh tamatan luar negeri. Menganggap produk luar lebih baik dari produk pendidikan Indonesia.
Dalam dunia partai pun melihat tamatan Es satu lebih baik dari keluaran pendidikan di bawahnya. Caleg-caleg memamerkan rentetan titel di namanya.

Siapakah yang memulai kotak-kotak pendidikan ini?

Bagaimana mungkin pendidikan politik bisa didapat dari bangku-bangku sekolah dan perkuliahan yang telah lama menjauhkan diri dari kehidupan berpolitik?.

Ketrampilan Politik adalah persoalan pengalaman berorganisasi, mengambil keputusan, memahami kebijakan, melihat permasalahan, melobi, menarik perhatian masyarakat lalu memobilisai isu dan lain-lain. Semua itu di sistem pendidikan kita saat ini nyaris tak didapat, bahkan terasa di singkirkan dalam pendidikan kita. Contohnya organisasi mahasiswa yang didesak menyelesaikan bangku kuliah, dan tak menghargai aktifitas organisasi mahasiswa sebagai nilai tambah.

Nah..kalau sudah begini..
Slogan yang terdengar menjelang pemilu 2009: “Saatnya yang muda yang memimpin”, cuma hanya jadi slogan.
Karena karena disadari atau tidak, Anak Indonesia, Pemuda Indonesia, telah tersistemkan sejak lama,tepatnya sejak orde baru berkibar untuk tidak Berpolitik!. Untuk tidak muncul sebagai pemimpin Indonesia sekaliber para founding father Indonesia.

December 4th, 2008 at 10:57 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Pera cakep nyang di sudut kanan:)

Seminggu ini aku bertemu kawan-kawan lama SMA dulu di dunia maya. SMA I Sidikalang- Dairi, Tamat tahun 1996, sekarang sudah tahun 2008. Woow…12 tahun lebih tak bersua.
Trimakasih pada penemu internet karena membuat jarak bukan masalah lagi.

Rueni maya ini membuatku sedikit sembuh dari amnesia masa SMA.
Kerasnya kehidupan meraih cita-cita, dan masuk ke realitas dunia kerja pasca kuliah, membuatku terlupa fase kehidupan yang turut menentukan aku yang sekarang ini. Aku baru sadar kalau aku nyaris amnesia, lupa selupa-lupanya.

Baiklah…
Inilah yang kulewati kala SMA dulu.

Setiap kelas yang kulewati di SMA sebenarnya sangat berkesan dan membentuk karakterku sekarang. Namun pelajaran yang paling berharga selama SMA ku ini adalah belajar…dan belajar.
Minat teman-teman sekelilingku untuk berprestasi sangat kuat. Kompetisi sangat terasa. Sejak masuk kami terkena virus meneladani para kakak kelas diatas kami yang sukses kuliah di bebagai perguruan tinggi bergengsi di Nasional. Nyaris ukuran sukses adalah, ranking dan prestasi di UMPTN.

Mengetahui Bagaimana strategi belajar yang jitu, buku apa yang di pakai guru mengajar, menjadi hal yang menyenangkan untuk di curi tahu dari sekitarnya.

Anehnya aku tak pernah tertekan dengan kondisi ini. Kompetisi membuatku bergairah untuk selalu bersaing dalam nilai pelajaran.
Dan…hasilnya tak seberapa..hehehe
Aku memang tak pernah ranking di Sekolah. Dari SD sampai SMU.
Tapi belakangan di kuliah baru kusadari itu adalah hal yang wajar, setelah tau apa itu multiple inteligence. Hapal menghapal memang bukan keahlianku.

Sekarang teman-teman berserak di pelosok negeri bahkan dunia..ck..ck..ck..
Darah perantau batak ternyata kental juga di diri mereka…
Sedikit minder, karena aku masih berkutat di Sumatera Utara. Tapi tak apalah..semua itu pilihan hidup. Terlalu cinta aku dengan tanah batak sekitarnya ini.
Kuperhati-hatikan perubahan wajah mereka, beberapa pun aku lupa namanya. (amnesia sialan!).

Tapi dalam reuni ini ada sebuah semangat selain kerinduan masa lalu. Semangat yang berbisik tapi penuh harap : Yuk…kita bangun kampung kita!.
The…Chalank City….Sidikalang
Kota kecil yang dingin, di punggung bukit barisan.
Tempat para Ibu Bapa yang mengolah bumi, demi sekolah anak-anaknya.
Tak apalah rumah reot-reot, asal anak-anak sekolah setinggi-tingginya.
Masihkah seperti ini kota ku itu???

Aih…kupikir-pikir bisalah kisah SMA dulu bisalah sebanding dengan kisah novel Laskar Pelangi…heheehe


So glad to see Friends!

November 6th, 2008 at 8:41 pm | Comments & Trackbacks (2) | Permalink

Posting sebelumnya memang sengaja memuat perbandingan antara pro dan kontra RUU Pornografi ini,
Nah berikut adalah opini ku tentang RUU yang menggeliat tepat disaat Minyak dunia di berbagai negara terjadi penurunan harga kecuali di Indonesia (dan anehnya tak ada yang bicara penurunan harga BBM).

Dulu, masa di ku masih pengurus KOHATI, memang aku pernah menjadi penggiat dalam menggol kan RUU APP. Mengumpulkan kawan-kawan untuk memberikan masukan ke Biro PP, kemudian, mengumpulkan tanda tangan dukungan. Tak hanya tingkat sumut, tapi tingkat Nasional aku suntik untuk melakukan pengumpulan tanda tangan dukungan, kemudian di kirimkan ke DPR-RI. Badko yang ikut serta, adalah Kohati Badko HMI Sumut, Riau, Jabotabeka, Jawa barat.
Tahun itu adalah tahun 2005, bulan Agustus di Jakarta.

Sekarang aku punya pandangan sendiri terhadap RUU ini. Tentunya setelah sedikit serius membaca RUU yang katanya sudah di revisi ulang. (sumber RUU nya klik disini)

Tanggapanku adalah:
RUU ini hanya punya semangat tapi lemah penyusunan undang-undang.
Meski aku bukanlah orang hukum, tapi terbaca jelas ketimpangan RUU ini.

1.Ada pasal yang tidak logis dan saling bertentangan dalam undang-undang ini, terutama dengan pasal 3, point B, yang menjadi tujuan RUU ini. Tak menutup kemungkinan ada pasal bertentangan dengan undang-undang lain tapi belum sempat kubandingkan.

Pasal tersebut yaitu:

Pasal 6
aku pikir kata membuat perlu di revisi karena bersifat sangat privasi. tak mungkin negara bisa mengawasi sampai ke proses pembuatan di individu.

pasal 47
Ini pasal paling potensial yang justru melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang jadi objek pornografi

pasal 31 tidak sinkron dan tidak mengakomodir pasal 3 yang menyatakan tujuan RUU ini adalah:
memberikan perlindungan, pembinaan, pendidikan moral dan akhlak kepada masyarakat serta kepastian hukum yang mampu melindungi setiap warganegara, terutama anak dan perempuan dari eksploitasi seksual
Tidak ada pembinaan dalam bagian ketentuan pidana maupun pasal-pasal lain UU ini. kecuali untuk anak (pasal 18).

2. Ada Tunpang tindih dengan KUHP yang telah lebih dulu memuat aturan pornografi secara lebih detail.
Setahu saya, dalam proses pengadilan cenderung menggunakan KUHP, dan lagi dalam KUHP lebih jelas dan detail batasan pornografi dibanding RUU ini sendiri. Sanksi hukum dalam RUU ini yaitu di “pengasingan di daerah terpencil” membingungkan. Aku baru tau ada hukuman seperti ini. klo begini, maka akan lebih jelas sanksi hukuman di KUHP (pasal .

3. Ada istilah baru yang tidak di jelaskan dalam penjelasan Undang-undang ini.
Istilah tersebut adalah:
Ponoaksi (pasal4)
daerah terpencil (pasal 31-pasal50)

Mengomentari ketakutan penulis blog pendukung RUU ini, yaitu :

Mereka para pengusaha industri sex yang merasa dirugikan dengan diudangkannya
RUU APP.

Sepertinya salah besar deh…KUHP sudah lama ada untuk menyelesaikan Ponografi di negara ini. Masalahnya adalah Penegakan hukum negara kita memang lemah. Nah ..jika menggunakan RUU yang lemah ini bukankah penegakan hukum juga semakin lemah?,
karena RUU ini sendiri sangat lemah dalam dengan uraian diatas.
Ditambah dengan uraian penjelasan RUU ini yang justru menimbulkan banyak persepsi.(yaitu perbedaan pornografi dengan seni)

Selain itu pula, jika mengacu pada Pasal 47, jelas sekali yang menjadi korban jika RUU ini di sahkan adalah perempuan dan anak bukannya industri sex.isinya sbb;

Setiap orang yang menjadi obyek atau model media yang mengandung muatan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dipidana dengan pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000, - (lima ratus juta rupiah) dan/atau kerja sosial paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pengasingan di daerah terpencil paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun

Yang membuat pasal ini, pastilah menganggap bagian tubuh perempuan adalah hal yang tabu, dan berdosa. Anehnya yang disalahkan adalah perempuan yang memiliki tubuh,bukannya mata yang melihat,menikmati, kemudian menyelewengkan keindahan ciptaan Allah tersebut. Pasal ini harus nya tidak ada tapi lebih menghukum kepada si penikmat(ilegal) dan pendistribusi.

Nah..jikalah benar, RUU ini di usung oleh orang-orang Islam fundamentalis….
Wadduh..plis deh..jangan ngaji aja.
Belajar, membaca dan menulislah,
masa bikin undang-undang malu-maluin begini.

October 4th, 2008 at 6:34 am | Comments & Trackbacks (3) | Permalink

Baru saja selesai menonton acara debat partai di TVone…

(iya..iya..aku dengar protesmu,aku gak tarawih kan?stop  that.ok.)

Debat partai Antara PBR dan PDK.

Satunya adalah partai yang mencalonkan aku manjadi caleg.

Satunya lagi adalah partai yang mencalokan Uda ku.

Wis..aku penasaran.

Plus aku juga blom pernah perhatiin Bursah Zarnubi bicara.

Sejujurnya aku pusing mengikuti acara ini sampai selesai. Semua berebutan bicara. Seolah semakin keras mereka bicara, maka akan di dengar. Padahal aku (penonton) cuma dengar sepotong-sepotong sambil bengong.

Pembawa acaranya 2 orang seperti wasit tapi lebih pas sebagai provokator. Padahal fungsi moderator yang bisa mengendalikan susana penting di acara seperti ini,agar kualitas debat sampai ke penonton dan bukannya menampilkan tegang urat leher para pendukung partai.

Acara ini seolah mempertontonkan tidak inteleknya fungsionaris partai, meski didalamnya ada orang yang katanya ‘intelek’.

Sebut sajalah Rias Rasyid,konon beliau adalah penggagas otonomi daerah.
Satu lagi yang baru-baru ini mencuri perhatianku : Sudir Santoso, ketua parade nusantara.

Pernah aku menontonnya dalam sebuah debat juga.
Gayanya tenang dan kharismatik bikin aku simpati.
Sejenak hati bergumam:

Mungkin begini lah Jendral Sudirman dulu ya?

(cara berpakaian sudir ala Jendral dan namanya tingal di tambah ‘man’).

Akan tetapi di di acara ini, Sudir Santoso tenggelam dengan riuh rendah partainya sendiri dan partai lawan debat.Ditambah pula suara 2 pembawa acara yang sekali-kali harus melengkingkan suara agar dapat di dengar, tak cerdas pula.

Dan..

Bah!?

ketauan juga konsepnya yang nyeleneh tentang pembangunan pedesaan.

Mengalokasikan APBN lansung ke desa?.

Yang benar saja Bung?

Itu sama saja menumpahkan air ke gurun sebanyak-banyaknya. Dan Gurun cuma basah sebentar.

Kenapa?

karena bukan air sumber permasalahan di Gurun.

Bukan dana sumber permasalah di Desa!.

Tapi sistem yang tidak memihak petani

(petani=mayoritas penghuni desa..catat..kepala desa cuma 1 orangnya saja).

Ada tak ada dana, petani tetap bertani. Hanya saja hasilnya tidak bisa menjadi penghidupan.

Jika kemarau,harus ngutang untuk menambahi kebutuhan hidup.

Jika produksi berlebih, teronggok busuk tak menghasilkan uang.

Bisakah hal itu selesai dengan memberi dana langsung???
plis deh..
Idemu itu membunuh petani.

Lebih konkrit tawaran PBR, meski hanya mengusahakan ketersediaan pupuk.
(ehm..suer..ini objektif)

Kenapa?
Petani kerjanya ya..bertani. mengelola pertanian dan tentunya dengan pupuk.

Jangan petani di cekoki pupuk, kemudian di naikkan harganya bahkan kemudian hilang dari peredaran. Persis sepertinya hilangnya peredaran Gas tabung 12 kilo sekarang.

Tugas Pemerintah sebenarnya cukup mendukung, agar petani bekerja dengan baik. itu saja.
Tak perlu beri uang segepok. Beri saja Stabilitas harga pasar.Itu sudah lebih dari cukup dbandingkan uang mu.

(Petani menerima uang segepok. Ntar malah di belikan kulkas buat lemari baju.)

Bung Sudir Santoso, gak jadi deh aku ngefans ma mu.
Meski Kepala Desa, Meski ketua persatuan kepala desa se-Indonesia (malah)..
t

api memang lah kau ndeso.

Bung..
ThinK global, Act Locally Sir!
Jangan sebaliknya.

September 4th, 2008 at 7:57 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Dukung mendukung perempuan di dunia politik jangan sekedar melihat lingkup relasi perempuan dan lelaki saja. Terlalu sempit,dan hanya akan menjadi debat kusir padahal solusi sebenarnya adalah bagaimana menjalin komunikasi yang baik di kedua pihak.

Relasi perempuan dan laki-laki akan sangat berbeda jika di bahas dalam konteks politik & demokrasi, dimana banyak kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di tentukan.

Perempuan di politik sangat penting karena :
Bicara demokrasi adalah bicara perwakilan kepentingan. Tak masuknya kepentingan setengah masyarakat (perempuan) menghasilkan kebijakan yang timpang dan ujung-ujungnya tak nyaman bagi kedua pihak (laki-laki dan perempuan).

Banyak contoh kebijakan yang tak mengakomodasi kepentingan perempuan tapi mengorbankan perempuan.

Contoh paling jelas adalah, kebijakan pemaksaan alat kontrasepsi pada perempuan. Ketika sebuah kebijakan mengakibatkan lingkungan hidup rusak, kelompok yang paling rentan adalah perempuan dan anak (lihat saja daftar korban jika terjadi bencana).

Dalam pemberantasan prostitusi yang di razia adalah kaum perempuan (korban) padahal pembelinya adalah kaum laki-laki yang bebas jajan sana-sini.

Perhatikan kejahatan yang bermula dari hasrat seksual tak terkendali milik laki-laki, dalam pemberantasannya justru perempuan yang dianggap biang masalah.

Yang sering diungkit ketika perempuan terjun ke publik adalah :jangan lupa kodrat mengurus rumah tangga.

Lho…siapa yang memisahkan pekerjaan dengan urusan rumah tangga?
bukankan kebijakan laki-laki?.
Pernah melihat ibu tani bekerja di sawah yang masih menggendong anaknya?

Realistis lah.
Kita tidak bisa menutup mata, perempuan bekerja sekarang karena tuntutan hidup. Bukan sekedar gengsi wanita karir…tapi banyak yang murni mencari makan, mungkin membantu suami, atau bahkan memberi makan suami dan anaknya (contoh:TKW).

Siapa yang berjuang memperhatikan hak mereka jika perempuan tak terjun ke politik dan memberikan kemudahan dan penghargaan selayaknya bagi kaum perempuan.
Bukankah baik jika perempuan di beri ruang bekerja tetapi tetap terjaga keutuhan keluarga (unsur terkecil negara)?.

Jika perempuan (visioner) semakin banyak di politik,tentu keadaan yang lebih baik bagi perempuan akan lebih mudah terwujud.

Saya setuju dengan pendapat mu bahwa Perempuan memang cenderung plegmatis, memilih diam saat terzholimi. Melihat yang salah tetapi tetap tak berbuat.
Mungkin akan banyak perempuan memilih Golput?..Aku tak heran lah.

Saranku…benar-benar buka mata. Lihat nasib kaum perempuan. Benarkah diammu menyelesaikan persoalan?

sebuah pepatah berkata, Berbuatlah!, atau  kamu adalah bagian dari persoalan itu sendiri.
————————-

balasan kesal di sebuah milist
pena pera

August 20th, 2008 at 9:10 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Buang stres tapi bernas, silahkan nonton film ini.

Bagusz banggets…
(hehehe …berlebihan ya???)

tapi emang seperti itulah kesanku…

banyak kekonyolan Pho panda yang mengundang tawa…

tapi banyak juga selipan makna yang dalemmm …dan nanceep…

khususnya untuk pendidik

Makna pendidik..menurutku lebih luas, bisa jadi orang tua ke anaknya, bisa jadi guru sekolah ke muridnya, bisa jadi senior ke juniornya…

Seperti Andreas Harefa berkata, bahwa proses puncak manusia pembelajar adalah menjadi Guru…

Seperti kata Ki Hajar Dewantara, bahwa semua orang adalah guru…

Guru..adalah kita…kita adalah guru..

Nah film ini mengajarkan bagaimana menjadi Guru. Caranya :

1. Percaya.
Percaya bahwa tak ada yang kebetulan dalam hidup. Semua ada proses untuk mencapai tujuan. Kita hanya perlu mencari cara yang tepat..dan berjuang untuk mendapatkannya.
Percaya, pada kemampuan dirimu, pada muridmu…bahwa kamu bisa membantunya untuk belajar.

2. Pesan moral yang sangat kusuka :
" Masa lalu adalah History, Masa depan adalah Mistery, sedangkan hari ini adalah angurah sesungguhnya..itulah sebabnya kita menyebut hari ini dengan "present" (hadiah)
So..manfaatkan hari ini dengan rasa percaya mu..dan bekerja keraslah.

3. Nah..ini teknis mengajar.
Ketika shifu sang guru, mencari cara agar si Pho, Panda Ndut..benar-benar bisa menjadi kungfu master. Dia tertegun, ketika Pho si ndut…yang biasanya gak bisa merentangkan kaki, dengan lihainya mengambil pie apel di rak paling atas, dengan kuda-kuda sempurna.

Aha…eurekaa…
!!!
Shifu berkata,
"akhirnya aku menemukan cara mendidikmu, selama ini ternyata aku salah…tentulah aku tidak boleh menggunakan metoda yang sama dengan caraku mengajar 4 muridku yang lainnya…
seharusnya aku mengajar dengan metoda sesuai dengan dirimu".

Shifu disini menemukan kesadaran,
bahwa tiap orang adalah unik..dan karena itu metode/cara belajarnya pun unik..

jadilah si Pho yang hobi makan..belajar dengan pancingan makanan…

dan
berhasil..

catet…
dan garis bawahi…


setiap orang adalah unik..
metode pendidikannya pun harus sesuai dengan keunikan si murid.

4. Pesan penutup yang tertulis dalam gulungan yang di perebutkan. (ups..lupa namanya)

" tidak ada yang spesial, yang membuat spesial adalah dirimu sendiri"

nah..tak semua orang bisa ke tahap ini. Melihat dirinya adalah seorang yang spesial/unik…dan karena uniknya, maka jadilah diri sendiri.

Proses puncak dari pendidikan ternyata untuk memperlihatkan ke si murid..bahwa hiduplah dengan menjadi diri sendiri.

bukan menjadi murid yang diingikan gurumu

bukan pula menjadi tukang mie karena garis turun temurun orang tuamu
tukang mie

tapi karena memang mau mu…


jadilah..menjadi impianmu.

so…
gendut..tapi jadi kungfu master???

Siapa takut??

Pena Pera

July 8th, 2008 at 9:05 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Masih seputar perjalanan ku ke Tripa.
Aku ikut bersama tim pendidikan, ke desa sekitar Tripa, mengajak anak-anak untuk membaca. Dengan mobil merah yang kami panggil si pemadam kebakaran, pun parkir di pelataran mesjid tempat anak-anak desa Drien Tujuh belajar di Tempat Pendidikan Al-Quran nya.

Mereka baru saja selesai mengaji. Era, sang fasilitator bersama Eko, volunteer anak, langsung memanfaatkan waktu yang tersedia mempromosikan buku dengan gayanya yang menarik perhatian anak-anak.

Anak_drien_7_3

Aku lebih tertarik dengan sumur artesis yang mengalir terus menerus di tempat wudhu masjid. Airnya kehijauan, namun cukup jernih dan digunakan berbagai keperluan oleh penduduk sekitar. Begitu kata seorang ibu yang mengaku Pemilik rumah di belakang masjid, Janda satu orang anak bernama…Yusri (klo gak salah ya…)

Dari ibu ini, aku jadi pendengar setia ngalor ngidulnya…Ehm..kan namanya fasilitator harus mengenal masyarakat. Jadi kumanfaatkan saja keterbukaan ibu ini untuk mengenal lebih jauh budaya desa ini.

Ternyata Era pernah kena tegur di desa ini soal busana yang di pakainya. Hmmm rupanya diawal dulu Era berpakaian dengan jeans ketat dan baju ketat meski berjilbab. Ibu ini yang menasehati Era untuk menggunakan Rok agar lebih sopan. Pernyataan ibu itu menjawab kebingunganku melihat Era yang justru pakai Rok ketika ke lapangan. Aku sih..meski terbiasa memakai rok, kalau kelapangan lebih senang pakai celana untuk kemudahan ku bergerak.

"Trus aku gimana dunk Bu..aku kan pakai celana nih?". Tanyaku dengan rada gelisah karena menyalahi budaya mereka.

"Oh..kamu gak apa-apa. Celana mu kan dari bahan kain". Maksudnya kain, adalah bahan selain jeans.

Pff…Syukurlah..aku jadi lega.

Ibu itu menunjukkan anaknya yang nongkrong di tangga TPA. Bajunya dekil. Anak itu masih berusia seitar 10 tahun, kelas 4 SD. Nampaknya tertarik melihat buku-buku yang kami bawa, tapi enggan bergabung di dalam TPA. Ibu nya bilang, kalau anaknya pernah di pukul oleh pak Tengku (guru mengaji di Aceh di panggil Tengku). Sejak itu dia tidak mau datang lagi mengaji.
ah…kasihan Yusri.

Anak itu melihat aku dan ibunya bercakap-cakap, berlari menghampiri. Aku ajak anak itu berkenaan, Eh.. si ibu malah ngomel menyuruhnya mandi. Ku tanya sudah berapa anaknya bu?. Ibu menjawab, cuma Yusri, ayahnya meninggal ketika mengandung Yusri. Meninggal karena konflik aceh…ditembak aparat.
Hatiku terasa perih….kasihan Yusri.

Aku pamit dari si Ibu. Pegal juga dengar celotehnya hampir 1 jam dengan berdiri. Aku ingin melihat anak-anak yang membaca buku seperti membaca juz amma.

Kuperhatikan ada perbedaan gaya membaca antara anak laki-laki dan perempuan.
Anak perempuan cenderung tekun membaca. Buku bacaannya tak pilih-pilih. lembar demi lembar di habiskannya membaca dengan suara keras. Seolah membaca itu kewajiban saja bagi mereka.

Meski termasuk paling cerdas diantara 3 desa yang kami dampingi, Anak-anak di desa ini masih banyak yang banyak belum bisa berbahasa Indonesia. Sehingga tak heran jika buku yang berbahasa Indonesia itu di baca tanpa mereka pahami maknanya. Persis seperti membaca juz amma.

Anak_drien_7_2

Berbeda dengan anak laki-laki. Mereka agak bergerombol. Mengambil buku tentang ilmu pengetahuan. Membolak-balik buku dan memperhatikan gambar. Lama membolak-balik buku baru ada yang mulai membaca. Ada juga yang membaca sambil memamerkan gambar yang dilihatnya pada teman sebelahnya.
Lucuuu….Btw..ini gaya baca ku juga (kaya’ anak-anak ya?)

Anak_drien_7

Asyik memperhatikan anak-anak membaca, tiba-tiba Yusri datang nongkrong. Duduk di tempat semula di tangga TPA. Tapi lebih rapi. eh…ternyata yusri sudah mandi.

"Ai…Yusri udah mandi ya…sini yuk gabung membaca?" ajakku.
anak itu menggeleng tidak mau.

" weleh"…bingung aku.

Mungkin trauma pada Tengku yang memukulnya masih tersisa. Kuambil buku tentang binatang-binatang. Ku mendekat ke arahnya.

" Yuk…Yusri kita baca buku ini"
ajak ku lagi.
Eh..Yusri pun dengan semangat, matanya bercahaya, meraih buku yang ku sodorkan padanya.
Teman-temannya yang lain mendekat ke Yusri saling pamer gambar menarik yang di temukan.

Ah..asyik lo gabung dengan anak-anak. Meski ku tak bisa melucu ke mereka. Aku terhibur melihat wajah-wajah polos yang semangat belajar itu.

Kok tega sih…memukul mereka ya????

pena pera

June 13th, 2008 at 9:44 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink